‘Sky Burial’ di Tibet, Jasad Manusia Diberi ke Burung Nasar

Agen Casino Online, Judi Bola Online, Agen Sbobet

pemakaman-ekstrem-sky-burial-di-tibet-jasad-manusia-diberi-ke-burung-nasar

Pemakaman Ekstrem ‘Sky Burial’ di Tibet, Jasad Manusia Diberi ke Burung Nasar

Agen Togel Terpercaya – Ritual ‘sky burial’ atau pemakaman langit di Tibet, dapat dibilang adalah ritual kematian paling ekstrem di dunia. Pada ritual ini, jenazah manusia dipotong-potong lalu diberikan ke burung nasar atau burung bangkai di gunung.
Bagi beberapa besar orang, melihat burung bangkai memakan mayat manusia dapat menjadi terlampau menyeramkan atau mengerikan. Tapi tidak untuk warga Tibet yang menganut agama Buddha.

Sabtu (25/11/2023), warga Tibet menyongsong kematian secara sukacita dikarenakan yakin reinkarnasi di alam selanjutnya. Oleh dikarenakan itulah mereka pilih langkah pemakaman langit atau yang disebut dengan ritual ‘Jhator’.

Jhator artinya sky burial atau pemakaman di langit. Dinamakan begitu dikarenakan ritual Jhator dikerjakan di atas bukit atau gunung. Tak sembarang orang dapat dimakamkan dengan langkah begini. Jenazah tak boleh di bawah 18 tahun, wanita hamil, atau mereka yang meninggal dikarenakan penyakit atau kecelakaan.

Drigung Monastery di Tibet merupakan tidak benar satu berasal dari sedikit kuil Buddha di dunia yang masih laksanakan ritual pemakaman ‘Jhator’ yang sakral.

Pemakaman Ekstrem ‘Sky Burial’ di Tibet, Jasad Manusia Diberi ke Burung Nasar

Dalam ritual Jhator, jenazah tidak terlampau dikubur dikarenakan tanah di Tibet terlampau keras dan berbatu. Tidak pula dibakar dikarenakan kelangkaan bahan bakar dan kayu. Cara mereka adalah dengan memutilasi jenazah, memisahkan daging dan tulang, untuk menjadi makanan burung nasar dengan sebutan lain burung bangkai.

Burung nasar didalam bahasa Tibet disebut Dakini, yang artinya penari langit. Warga Tibet yakin, Dakini adalah reinkarnasi berasal dari malaikat. Mereka bakal mengambil arwah jenazah dan mengantarnya ke surga, sebuah tempat menanti reinkarnasi kehidupan selanjutnya.

Bagi orang Tibet, ritual ini sarat bakal nilai religi. Menyerahkan tubuh mereka untuk makhluk lain, setidaknya itu menjadi kelakuan baik paling akhir mereka sehabis kematian. Tubuh yang menjadi makanan burung nasar, dianggap dapat menyelamatkan hewan-hewan tersebut.

Tradisi ini juga merujuk pada tidak benar satu Buddha yakni Sakyamuni, yang konon dulu laksanakan hal ini. Untuk menyelamatkan seekor merpati, Sakyamuni berikan makan elang dengan dagingnya sendiri.

Setelah upacara kematian, jenazah bakal dibiarkan begitu saja selama 3 hari. Para biksu bakal berdoa memutari jenazah tersebut sebelum Jhator dilakukan. Jenazah lalu diposisikan layaknya janin, sama layaknya saat dilahirkan.

Jhator umumnya dikerjakan sebelum fajar. Jenazah dibawa ke atas bukit sesudah itu dilepaskan pakaiannya. Mutilasi pun dimulai, pemotongan pertama dikerjakan pada punggungnya. Kapak dan parang digunakan dikarenakan energi potongnya cepat dan pasti. Tulang, daging, dan organ didalam dipisahkan.

Tulang sesudah itu dihancurkan dan dicampur dengan ‘tsampa’ atau tepung barley panggang. Setelah tubuh terlampau terpotong seluruhnya, adonan tulang itu sesudah itu disebar ke tanah. Dakini pun menjadi datang.

Masyarakat percaya, sehingga arwah terbawa semuanya ke surga, semua bagian tubuh harus dimakan. Setelah adonan tulang, bagian sesudah itu yang menjadi persembahan adalah organ dalam, baru sesudah itu daging.

Bagi orang awam yang melihatnya, tradisi ini tentu terbilang cukup mengerikan. Namun, bagi warga Tibet ritual Jhator menjadi bukti bakal pandangan lain pada kematian.

Meski banyak pertanyaan yang terlihat di benak traveler, melihat prosesi Jhator haram hukumnya bagi mereka yang bukan keluarga. Hanya keluarga mendiang yang boleh hadir di ritual tersebut. Mengambil gambar didalam bentuk apapun, dilarang didalam ritual ini.

Agen Casino Online,| Judi Bola Online,| Agen Sbobet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *